SUMEDANG, JURNAL PERS86 || Taman Baca Masyarakat (TBM) Al Fajar hadir di lingkungan Perumahan Mekarbakti bukan sekadar bangunan, melainkan jawaban nyata atas keragaman dan kebutuhan warga yang tinggal di sana. Koordinator TBM Al Fajar, Molly, menjelaskan sejarah lahirnya lembaga ini.
“Lingkungan Mekarbakti dihuni oleh warga dari berbagai latar belakang — beragam, heterogen. Di tengah keberagaman itu, kami melihat satu hal yang sama: minat baca masyarakat di sini sangat tinggi. Namun belum ada wadah yang memadai. Dari kebutuhan itulah, TBM Al Fajar akhirnya lahir,” ungkap Molly.
TBM Al Fajar tidak sekadar menyediakan rak buku. Ia melahirkan program unggulan bernama Rumah Cendikia Fajrul Fathan, yang menyelenggarakan kegiatan Tahfidz Al-Qur’an guna menanamkan nilai keagamaan sejak dini, serta Les Bahasa Inggris khusus untuk peserta didik jenjang SD hingga SMP.
Kegiatan berlangsung setiap hari, dari pukul 10.00 pagi hingga 17.00 sore. Siapa saja boleh datang — pelajar, anak-anak, maupun masyarakat luas. Pengunjung dapat membaca di tempat, meminjam untuk dibaca di rumah, hingga mengikuti kegiatan kreatif seperti bercerita, mendongeng, drama, dan peragaan kisah dari buku-buku yang tersedia.
TBM Al Fajar adalah ruang literasi masyarakat yang hadir untuk menumbuhkan minat baca dan budaya belajar sepanjang hayat. Dengan koleksi buku yang terus berkembang dan suasana yang ramah, TBM Al Fajar setiap bulannya melayani sekitar 100 pemustaka dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Kami berkomitmen menjadi jembatan ilmu dan cahaya harapan bagi masyarakat sekitar.
Koleksi buku di TBM Al Fajar kini mencapai lebih dari 2.000 judul, bersumber dari Bantuan Program Seribu Buku Perpustakaan Republik Indonesia, Bantuan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispuspida) Jawa Barat sebanyak lebih dari 240 buku, serta sumbangan dan donasi dari berbagai pihak.
TBM Al Fajar juga giat menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi, antara lain mahasiswa KKN dari UNINUS, UIN, serta Kampus Qurrota A’yun Garut. Sinergi ini menjadikan TBM bukan sekadar tempat baca, melainkan ruang belajar yang hidup dan terbuka.
Menyadari banyak warga kini lebih tertarik pada konten media sosial daripada buku fisik, Molly menyebut hal itu bukan sekadar hambatan, melainkan tantangan untuk berkembang.
“Kami ingin terus berbenah, meningkatkan kualitas agar tetap relevan dan bersaing di dunia digital. Tujuannya satu: agar generasi mendatang tetap mencintai literasi. Harapan kami, TBM Al Fajar semakin lengkap koleksinya, semakin memadai fasilitasnya, dan semakin mampu menjadi rumah yang menumbuhkan cahaya pengetahuan bagi seluruh warga Mekarbakti,” tutup Molly.
